Jaksa Periksa Misliadi soal Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI Bengkalis

  • Bagikan
Jaksa Periksa Misliadi soal Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI Bengkalis
Misliadi Anggota DPRD Riau

Menit.co.id – Penyidikan dugaan korupsi dana hibah KONI Bengkalis tahun 2019 sebesar Rp 12 miliar yang ditangani Kejaksaan Negeri Bengkalis terus bergulir, Jum’at (19/3).

Setelah beberapa pengurus cabang olahraga (Cabor) mintai keterangan, Senin (15/3) giliran Misliadi selaku Ketua cabang olahraga (Cabor) Voli menjalani pemeriksaan saksi.

Misliadi yang saat ini adalah anggota DPRD Riau dimintai keterangan selama 10 jam oleh penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan Negeri Bengkalis Doli Novaisal.

Informasi dari sumber seperti dikutip dari ridarnews.com di Kejaksaan menyebutkan, Misliadi datang ke Kejari sekitar pukul 12.50 WIB bersama Farida selaku bendahara Cabor Voli.

Misliadi yang juga menjabat ketua PKB Kabupaten Bengkalis diperiksa dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB oleh penyidik Doli Novaisal, sedangkan Farida yang saat ini menjabat Kabid Kepemudaan Dispora Riau diperiksa oleh Frengki Hutasoit selama 4 jam.

Sebagaimana beberapa pengurus Cabor dan pengurus KONI Bengkalis yang didampingi Khairul Majid dan Jhon Hendri, pengacara yang telah ditetapkan KONI Bengkalis. Misliadi S.Hi dan Farida juga didampingi Khairul Majid dan Jhon Hendri.

Misliadi diselah-selah jeda pemeriksaan mengatakan, awalnya dia dan Farida mau datang sendiri. Namun, dirinya ditelpon Ketua KONI Bengkalis Darma Firdaus Sitompul dan ditawari pengacara yang sediakan Ketua KONI.

“Ucok (Ketua KONI Bengkalis) nelpon menawarkan pengacara. Aku jawab, aku tak ada duit. Tapi, Ucok mengatakan pengacara tersebut dibayar KONI, makanya saya mau didampingi pengacara,” kata Misliadi yang juga Ketua PKB Kabupaten Bengkalis.

Sementara itu, usai menjalani pemeriksaan, Farida yang saat ini menjabat Kabid Kepemudaan Dispora Riau, kepada awak media mengaku dicecar 13 pertanyaan terkait anggaran Rp 352 juta lebih yang diterima Cabor Voli pada tahun 2019.

Namun, Farida yang sore itu mengaku mau segera kembali ke Pekanbaru menjelaskan secara garis besarnya saja, bahwa dana sebesar Rp 352 juta lebih itu dipergunakan untuk mengikuti walikota cup di Dumai, kejuaraan yang diadakan oleh Pertamina dan untuk Musorkab. Sementara itu, Misliadi baru selesai diperiksa sekitar pukul 23.00 WIB.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, selain Ketua Umum Cabor Volleyball, Misliadi juga ketua tim verifikasi proposal Cabor dan juga Ketua Bidang Organisasi.

Kendati prestasi Cabor yang diurusnya “berantakan” di level Riau, namun pada tahun 2019 Cabor Volleyball bertengger diurutan kedua terbesar setelah anggar sebagai penerima dana pembinaan dari KONI Bengkalis. Pada tahun itu, Cabor Voli menerima Rp352 juta lebih. Sementara pada tahun yang sama ada Cabor dengan prestasi cukup mentereng hanya menerima puluhan juta.

Besarnya bantuan yang diterima Cabor Voli berbanding terbalik dengan prestasi, diduga salah satu pemicu menyeruaknya dugaan korupsi dana hibah KONI Bengkalis.

Sementara beberapa hari sebelum pemeriksaan, Misliadi menjelaskan, dalam memverifikasi proposal yang diajukan Cabor, pihaknya hanya menyesuaikan harga pasar dengan harga yang diajukan Cabor.

“Saya hanya mengoreksi bukan mencoret. Karena saya tidak berwenang mencoret yang diajukan Cabor. Misalnya, dalam proposal harga nasi bungkus sekali makan Rp30 ribu, kan tak logis. Saya turunkan menjadi Rp 20 ribu, bukan dicoret,” ujarnya.

Ditegaskan oleh anggota DPRD Provinsi Riau ini, hasil verifikasi yang dilakukannya sifatnya tidak baku. Soalnya, ungkap Ketua PKB Kabupaten Bengkalis itu, bagi Cabor yang keberatan dan ingin mendapatkan dana pembinaan lebih besar harus melobi Ketua KONI.

“Kalau ada Cabor yang ingin dapat lebih besar, silahkan lobi ketua (Darma Firdaus),” ujarnya.

Soal ketimpangan bagi-bagi ‘kue’ KONI ini dilontarkan Ade Janu Harjayanto Ketua Cabor Muaythai, Muhammad Fachrorozi dari Cabor Aeromodelling, dan Muhammad Reza Afriansyah dari Tarung Derajat serta Cabor andalan Kabupaten Bengkalis lainnya.

  • Bagikan