Konflik Binatang Buas, Pemuda Tewas Diterkam Buaya di Dumai

  • Bagikan
Seorang Pemuda Tewas Diterkam Buaya di Dumai
Seorang Pemuda Tewas Diterkam Buaya di Dumai

Menit.co.id – Seorang pemuda tewas tewas diterkam buaya. Pemuda 21 tahun yang merupakan warga Jalan Senepis Kelurahan Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan, Dumai ini ditemukan tewas oleh warga, pada Rabu (30/6/2021).

Pemuda yang menjadi korban bernama Insan Mulidi itu tengah membongkar kayu dari samping perahu pompongnya. Kayu tersebut merupakan kayu yang akan diolah jadi arang.

Sedang tengah membongkar, tiba-tiba pemuda tersebut diterkam buaya dan ditarik ke dalam air. Jasadnya ditemukan warga sudah dalam kondisi tercabik-cabik.

Dikonfirmasi Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati menyampaikan, kejadian warga diterkam buaya itu berlangsung sekitaf pukul 10.00 WIB.

Kronologisnya, ia menjelaskan bahwa kejadian itu pada saat pemuda tersebut sedang melakukan aktivitas bongkar kayu untuk bahan baku arang yang dilakukan di atas perahu pompong.

“Aktivitasnya itu berada di dalam sungai, tiba-tiba korban diterkam dan diseret masuk ke dalam air,” kata Dian, Kamis (1/7/2021).

Selanjutnya, beberapa orang yang mengetahui peristiwa tersebut langsung melakukan upaya pencarian di aliran sungai tersebut.

Kemudian, Dian menjelaskan, pada pukul 16.00 WIB korban ditemukan dalam kondisi masih utuh tetapi terdapat beberapa bekas gigitan binatang buas dimana di lokasi tersebut juga terlihat satwa liar buaya yang sedang mengapung.

“Korban atas nama Insan Mulidi, umur 21 tahun. Dia beralamat di Jalan Sinepis RT.07 Kelurahan Batu Teritip Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai,” jelasnya.

Jenazah korban kemudian diserahkan ke pihak keluarga untuk dilakukan pengurusan lebih lanjut.

“Upaya saat ini yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Riau adalah menjenguk keluarga korban dan memberikan uang duka, melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan memasang rambu-rambu peringatan,” tuturnya.

Harimau Sumatera Terkam Warga Batu Teritip Hingga Tewas di Dumai

Konflik manusia dengan harimau kembali terjadi. Samino (53) warga Jalan Lintas PU RT 03 Kelurahan Batu Teritip Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai ditemukan tidak bernyawa dengan kondisi tubuh tercabik-cabik, Selasa (29/06/21) sekitar pukul 14.00 WIB kemarin.

Tengkorak kepala korban pecah dan benaknya (otak) tidak ditemukan lagi. Tangan kanan dan kaki kanannya putus. Sedangkan tangan kiri dan kaki kiri belum ditemukan. Pada bagian tubuh korban terdapat banyak bekas cakaran maupun gigitan. Celana training yang dipakai korban juga tampak robek-robek.

Menurut informasi yang diperoleh, korban Samino berangkat bekerja untuk menyemprot kebun Osnes Sitorus pada, Jumat (25/06/21) pekan lalu.Korban berangkat menggunakan sampan. Tidak berapa lama menantunya, Bambang menyusul menggunakan motor dan mereka bertemu di kebun sekitar pukul 10.00 WIB.

Kemudian menantu korban pulang ke rumah sekitar pukul 13.00 WIB.Dalam perjalanan pulang, Bambang mengaku bertemu hewan besar warna coklat yang jaraknya lebih kurang 300 meter.

Setelah menunggu beberapa saat dan hewan itu jauh, Bambang baru kembali melintas.Sementara korban sejak berangkat ke kebun pada tanggal 25 Juni hingga 29 Juni 2010 tidak pernah memberi kabar atau menelpon ke rumah.

Hal itu membuat menantunya khawatir.Bambang kemudian menyusul mertuanya tersebut ke kebun, Selasa 29 Juni sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam perjalanan dia bertemu Lukman Darmanto, teman kerja korban di kebun sawit.

Selama bekerja mereka tinggal di barak yang disediakan pemilik kebun.Bambang menanyakan keberadaan mertua nya karena tidak ada mengabari sejak berangkat pada Jumat pekan lalu.

Namun Lukman mengaku tidak tahu dan malah mengira korban sudah pulang ke rumah. Dirinya mengaku sempat beberapa kali menghubungi nomor telpon seluler korban, tapi tidak diangkat.

Menurut Lukman, dirinya terakhir kali bertemu korban pada hari Minggu sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu Samino (korban) menyampaikan mau mengecek mesin air yang jaraknya lumayan jauh dari barak.

Setelah itu tidak berjumpa lagi dan Lukman menyangka korban sudah langsung pulang ke rumah.Mendapat informasi seperti itu, Bambang kemudian mengabari ibu mertuanya (istri korban) dan meminta bantuan kepada warga untuk ikut melakukan pencarian. Upaya yang dilakukan membuahkan hasil.

Berawal dari ditemukannya topi milik korban oleh Rizal, salah seorang warga yang membantu pencarian korban.Kemudiah juga berhasil ditemukan celana traning yang dipakai korban, serta beberapa bagian tubuh.

Diantaranya tengkorak yang sudah kosong isinya, tangan kanan dan kaki kanan serta bagian badan yang ditemukan di lokasi yang berbeda-beda.Berdasarkan temuan itu, warga kemudian menghubungi pihak kepolisian karena mereka tidak berani mendekat.

Petugas dari Inavis Polres Dumai sampai di TKP sekitar pukul 16.30 WIB dan langsung melakukan proses identifikasi. Hasilnya, jasad yang ditemukan itu dipastikan bagian dari potongan tubuh Samino yang hilang sejak beberapa hari lalu.

Korban diduga tewas akibat diserang binatang buas. Apalagi di daerah tersebut diduga masih berkeliaran harimau yang meresahkan petani di kebun. Selain itu juga ditemukan jejak kaki induk Harimau dan anak-anaknya.

Saat ini jenazah korban sudah di kembalikan kepada pihak keluarga untuk di kebumikan secara layak dan pihak keluarga korban menerima dengan ikhlas kondisi jenazah korban.

Pada sisi lain, Menurut World Wide Fund for Nature (WWF) Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi Harimau Sumatera.

Sayangnya, meskipun dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70% dalam seperempat abad terakhir.

Sebagai satwa dilindungi berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Harimau Sumatera yang bernama latin Panthera Tigris Sondaica ini hanya tersisa kurang lebih 400 ekor saja.

Berbagai aktivitas manusia telah menggerus alam rimba, yang dulunya adalah hutan lebat, kini berubah jadi kebun tanaman keras milik pribadi maupun perusahaan.

Karena terfragmentasinya habitat alami mereka, harimau terpaksa mendekat ke pemukiman masyarakat, yang mengakibatkan konflik antara manusia dan harimau dan timbulnya korban dari kedua belah pihak.

Belum lagi keserakahan dan keangkuhan manusia mengeksploitasi tanaman hutan dengan cara pembalakan liar.

Harimau jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm, panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg.

Warna bulunya lebih gelap dari jenis harimau lainnya, dan bervariasi dari warna kuning kemerahan sampai oranye gelap dengan belang berwarna hitam.

Belang harimau berfungsi sebagai kamuflase di antara alang-alang dan rumput.Harimau adalah predator teratas dalam lingkaran jaring makanan. Tanpa predator alami di habitatnya, manusia merupakan ancaman terbesar bagi keberadaan harimau.

  • Bagikan