Ledakan TNT di Rohul, Begini Keseharian Korban di Mata Keluarganya

    Kamis, 20 Juli 2017 - 14:27 Editor : Redaksi Dibaca : 208 Views

    Menit.co.id – Mariono, ayah dari Suwanda alias Wanda (26), korban ledakan TNT di Desa‎ Rambah Utama, Kecamatan Rambah Samo, Rokan Hulu (Rohul), Riau, menilai anaknya merupakan sosok yang baik dan pekerja keras.

    Pria berusia 59 tahun ini mengaku keluarganya sudah ikhlas melepas kepergian Wanda‎ yang meninggal dunia karena TNT yang dipegangnya meledak di samping rumah kontrakan milik Kartono di RT 01/ RW 02 Dusun Karya Bakti, Desa Rambah Utama,‎ Kamis (20/7/17) sekira pukul 11.30 WIB.

    “Saya sebagai orang tuanya ikhlas, namun kami minta pertanggungjawaban,” ujar suami dari Katmina (47) dikonfirmasi riauterkinicom, Kamis sore.

    ‎ ‎Mariono mengungkapkan keseharian anak ke empatnya dari lima bersaudara tersebut adalah sopir dump truk, biasa mengangkut batu bata dan pasir.

    ‎ Selain itu, korban Wanda ternyata seorang anak band yang jago bermain gitar. Tak heran jika korban banyak temannya.

    “Dia itu hobinya musik, dan pulang kerja ia pegangnya itu (gitar)‎,” katanya.

    Ia menuturkan sebelum pergi ke lokasi kejadian, di belakang SMKN 1 Rambah, anaknya Wanda baru istirahat setelah membersihkan kandang bebek. Setelah itu ia pergi ke rumah temannya.‎

    ‎ ‎Mariono mengaku sebelum kejadian ia tidak punya firasat buruk. Namun, Rabu (19/7/17) malam, tidak biasanya dia sulit tidur.

    “Malamnya saya nggak bisa tidur, nggak biasa-biasa,” terangnya.

    Kamis siang, saat dia sedang mendorong batu bata, di lokasi kerjanya, ia mendengar suara ledakan keras. Ia sempat khawatir mendengar suara ledakan itu, sebab anaknya Wanda sering bermain di sumber suara.‎

    ‎ Mendengar itu, Mariono langsung menuju TKP, dan menanyakan ke warga siapa yang menjadi korban. Namun tidak satupun warga yang mengenali wajah Wanda, termasuk ayahnya sendiri.

    ‎ Akibat ledakan tersebut, kondisi wajah Wanda mengerikan, menghitam karena kena ledakan. Sedangkan tangan kanannya putus,‎ dan ususnya keluar.

    Mariono mengaku pihak perwira Paskhas TNI AU sudah datang ke rumah duka dan meminta maaf ke pihak keluarga atas insiden meledaknya TNT hingga Wanda meninggal.‎

    “Dia (pihak TNI AU) sudah minta maaf‎ atas kejadian ini. Saya juga sudah minta maaf, mungkin anak saya yang salah,” ujarnya.‎

    ‎ “Saya ikhlas, mungkin ini sudah suratan dari Allah,” tutup Mariono.

    Sebelumnya, Wakil Komandan (Wadan) Korps Paskhas TNI AU Marskal Pertama (Marsma) Yudi Bustami mengakui bahwa insiden ledakan TNT di Desa Rambah Utama merupakan kelalaian pihaknya.

    ‎TNT yang meledak diakuinya milik Paskhas TNI AU yang tertinggal di lokasi, setelah 150 personel selesai latihan Serangan Fajar, bagian dari Latihan Perang ‘Trisula Perkasa 2017’. Latihan simulasi dilaksanakan di lapangan bola, di belakang SMKN 1 Rambah Samo.

    Usai latihan, personel kembali‎ ke Bandara Tuanku Tambusai Pasirpangaraian berlokasi di Desa Rambah Samo Barat. Setelah berkonsolidasi, mereka berencana akan melakukan penyisiran lokasi bekas latihan.

    Namun sebelum personel menyisir lokasi bekas latihan, terdengar ledakan keras hingga terdengar ke Bandara Tuanku Tambusai.‎ Yudi juga sebagai Direktur Latihan ‘Trisula Perkasa 2017’ yakin ledakan masih ada hubungannya dengan latihan Serangan Fajar yang baru mereka lakukan di Dusun Karya Bakti, Desa Rambah Utama.‎

    Hasil informasi berkembang soal ledakan TNT dilakukan Paskhas TNI AU bersama jajaran Polres Rohul, ungkap Yudi, didapat kesimpulan bahwa insiden tersebut kelalaian dari anggota Paskhas TNI AU yang baru selesai mengikuti latihan Serangan Fajar.

    ‎ “Kami dari pihak Korps Paskhas akan sepenuhnya bertanggung jawab. Ini masih tanggung jawab kami,” sampai Yudi saat memberikan keterangan pers di Kantor Camat Rambah Samo, Kamis sore, didampingi Kapolres Rohul AKBP Yusup Rahmanto dan Camat Rambah Samo Zulbahri.

    ‎ “Setelah kami ketahui ciri-cirinya, itu adalah kelalaian Tim Demolisi. Tidak ada sedikitpun untuk menyakiti, semua untuk membela masyarakat, apalagi kesengajaan,” paparnya.

    Marsma Yudi sangat menyesal atas insiden TNT meledak. Mewakili Komandan Korps Paskhas TNI AU, Yudi meminta maaf sebesar-besarnya ke ‎keluarga korban, termasuk keluarga dan korban luka-luka.‎

    “Kami akan bertanggung jawab maksimal kepada keluarga korban. Semua perawatan selama dirawat akan ditanggung,” kata Yudi tanpa menyebutkan santunan apa yang akan diberikan kepada keluarga korban meninggal dan korban luka.

    “Kepada anggota yang lalai tentu ada ketentuannya. Tentu akan kami tindak sesuai hukum Militer,” tegas Marskal Pertama Yudi Bustami.

    Sumber: Riau Terkini



    Komentar Pembaca: