Mabes Polri Bantah Aksi Teror di Indonesia Direkayasa

  • Bagikan
Petugas keamanan berjaga di depan gereja saat misa di Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (20/5). Pengamanan tersebut guna mengantisipasi dan memberikan rasa aman kepada jemaat yang melaksanakan kebaktian dan misa sepekan pasca ledakan bom di tiga gereja di Surabaya. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/ama/18

Menit.co.id – Mabes Polri membantah soal tuduhan jika kasus bom dan terorisme adalah rekayasa sebagai pengalihan isu. Korps baju cokelat itu menantang pada pihak yang tidak percaya untuk membuktikan jika kasus-kasus itu hanyalah rekayasa.

” Kalau ada yang bilang itu rekayasa, maka sutradara sehebat apapun, dari Hollywood pun, tidak akan bisa merekayasa kasus bom Thamrin, (rusuh) Rutan Brimob, Surabaya, Sidoarjo, dan Riau. Polri minta bukti siapapun yang sampaikan bahwa itu rekayasa. Mana buktinya? Mana yang aslinya,” kata Karo Penmas Polri Brigjen M. Iqbal di Mabes Polri, Senin (21/5).

Maka itu beberapa netizen ditangkap karena menuduh bom dan teror hanyalah rekayasa dan belakangan mereka terbukti secara hukum menyebarkan ujaran kebencian dan berita bohong. Diharapkan ini akan jadi pelajaran bagi semua pihak. Polisi meminta membedakan antara kebebasan mengemukakan pendapat dengan hate speech.

”(Tuduhan) ini mana faktanya? Gak ada? Mengancam stabilitas keamanan. Polri tidak nyaman dengan cap rekayasa. Siapapun yang menyebutkan rekayasa kami tunggu bukti. Sofyan Tsauri (eks Polri yang sempat jadi napi terorisme) disebut intelijen, ini mana buktinya?” tambahnya.

Iqbal mengatakan jika Indonesia menangani aksi terorisme dengan mengedepankan due process of law. Penyidik kepolisian menurutnya mengumpulkan seluruh alat bukti dan petunjuk dari TKP. Apakah alat bukti kejahatan itu ada korelasinya dalam tindak pidana terorisme atau tidak.

Polisi juga memeriksa beberapa saksi guna melakukan serangkaian upaya untuk membuat terangnya perkara. Polisi lalu melimpahkan berkas perkara itu ke jaksa dan jaksa memeriksa kembali seluruh upaya penyidik tersebut. Setelah dinyatakan lengkap oleh jaksa dan menganalisa lalu kasus itu diuji kembali di sidang.

”Sidang pun terbuka untuk umum tidak ada ditutupi. Kita ini sudah terdepan (dalam menangangai teror). Belum lagi soft approach dalam deradikalisasi yang dilakukan BNPT dan Babinkamtimas untuk menyampaikan pesan agar mereka tidak terpapar ajaran sesat,” urainya.

Sumber: BeritaSatu.com

  • Bagikan