Pendiri Khilafatul Muslimin Tertangkap, Ini Nama Orangnya

Khilafatul Muslimin
Pendiri Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja. Youtube/Khilafatul Muslimin

Menit.co.idPendiri Khilafatul Muslimin berhasil tertangkap oleh aparat Polda Metro Jaya dengan nama Abdul Qadir Hasan Baraja. Berikut ulasannya.

Polda Metro Jaya berhasil menangkap pimpinan Khilafatul Muslimin Abdul Qadir Hasan Baraja. Polisi menangkap Abdul Qadir Baraja di kantor pusat Khilafatul Muslimin di Lampung.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengatakan, saat ini Abdul Qadir Baraja sedang di bawa polisi ke Jakarta dari Lampung.

Abdul Qadir Baraja di bawa ke Jakarta untuk di periksa di Mapolda Metro Jaya. “Hari ini kita tangkap pimpinan tertinggi. Pelaku lagi di bawa ke Jakarta,” kata Zulpan.

Dia menjelaskan, penangkapan Abdul Qadir Baraja terkait pengusutan kegiatan Khilafatul Muslimin yang ada di Jakarta. “Penangkapan tim Polda Metro. Kita bentuk tim kemarin,” tutup dia.

Lantas bagaimana sepak terjang Abdul Qadir Baraja dalam Khilafatul Muslimin? Simak ulasan lengkapnya melalui artikel di bawah ini yang berhasil kami rangkum dari beberapa sumber.

Sepak Terjang Abdul Qadir Baraja di Khilafatul Muslimin

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) RI masih menyelidiki terkait konvoi rombongan sambil membawa poster bertuliskan ‘Kebangkitan Khilafah’ beberapa waktu lalu.

Kejadian yang terjadi di Cawang, Jakarta Timur itu sempat menghebohkan jagat media sosial hingga viral di Twitter Indonesia.

BNPT menyebut, untuk Khilafatul Muslimin yang di pimpin oleh Abdul Qadir Hasan Baraja itu telah berdiri sejak tahun 1997 silam.

“Di siarkan tahun 1997, oleh Abdul Kadir Hasan Baraja itu di Lampung,” kata Nurwakhid sebagaimana melansir laporan merdeka.com.

Menurut Nurwakhid, Abdul Qadir Hasan Baraja tak hanya mendirikan Khilafatul Muslimin pada tahun 1997. Dia juga ikut mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) di Lampung pada tahun 1970.

“Termasuk yang bersangkutan pernah di tahun 1970, mendirikan Darul Islam di Lampung juga. Darul Islam itu ya NII itu. Darul Islam itu kan Negara Islam Indonesia. Bahasa arabnya Darul Islam, itu Baraja pernah mendirikan itu juga,” ujarnya.

Dekat dengan Gerakan Radikal

Selain itu, untuk genealogi Khilafatul Muslimin tidak bisa di lepaskan dari Negara Islam Indonesia (NII). Hal itu karena sebagian besar tokoh kunci dalam gerakan ini adalah mantan kelompok NII.

Salah tokoh kunci dan bahkan pendiri sekaligus pemimpinnya adalah Abdul Qadir Hasan Baraja, yang kita ketahui merupakan mantan anggota NII.

Sekaligus salah satu pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki bersama Abu Bakar Baasir (ABB) dan lainya, serta ikut ambil bagian dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tahun 2000.

Terkait Khilafatul Muslimin memiliki rekam jejak berbahaya dan ada kaitannya dengan kelompok radikal terorisme Nurwakhid tak bisa menjawab secara gamblang.

Namun menurut dia, setidaknya ada beberapa parameter yang bisa dipakai dalam melihat Khilafatul Muslimin.

Pertama, aspek ideologi sangat berbahaya dengan memiliki cinta ideologi khilafah di Indonesia sebagaimana HTI, JI, JAD maupun jaringan terorisme lainya.

Walaupun dalam pengakuan mereka tidak bertentangan dengan Pancasila, namun ideologi mereka adalah mengkafirkan sistem yang tidak sesuai dengan pandangannya.

Kedua, secara historis, pendiri gerakan ini sangat dekat dengan kelompok radikal seperti NII, MMI dan memiliki rekam jejak dalam kasus terorisme.

Hal ini di buktikan dengan pimpinan mereka yaitu Baraja yang telah mengalami 2 kali penahanan. Pertama pada Januari 1979 berhubungan dengan Teror Warman, ditahan selama 3 tahun.

Kemudian di tangkap dan ditahan kembali selama 13 tahun, berhubungan dengan kasus bom di Jawa Timur dan Borobudur pada awal tahun 1985.

Lalu, dampak ideologis dari gerakan ini memiliki visi dan ideologi perubahan sistem yang sangat rentan bermetamorfosa dalam gerakan teror.

Hal ini bisa di lihat pada kasus penangkapan NAS, yang merupakan tersangka teroris di Bekasi yang ditemukan di kontrakannya.

Saat itu, di temukan kardus berisi Khilafatul Muslimin dan logo bordir Khilafatul Muslimin. Selain itu, gerakan Khilafatul Muslimin ternyata mudah berafiliasi dengan jaringan kelompok teror seperti ISIS.

Bahkan pada masa kejayaan ISIS pada tahun 2015, Rohan Gunaratna Peneliti Terorisme dari Singapura menggolongkan Khilafatul Muslimin telah berbaiat kepada ISIS.

Namun BNPT hingga kini masih mendalami jumlah anggota Khilafatul Muslimin. Sehingga Nurwakhid mengatakan bahwa belum bisa memastikan berapa jumlah anggotanya.

“Kalau pengakuan dari pada pengurus kan ada itu steatmentnya ya. Kita kan masih mendalami terus, kalau dari kami masih mengupdate datanya ya,” katanya.

“Kalau mereka kan tersebar di beberapa wilayah, kan ada itu yang list itu ya untuk wilayah ini, wilayah ini yang viral itu, yang itu saja,” kata dia.

Densus 88 Usut Konvoi Khilafatul Muslimin

Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror Polri masih menyelidiki terkait konvoi rombongan sambil membawa poster bertuliskan ‘Kebangkitan Khilafah’.

Di ketahui, kejadian yang terjadi di Cawang, Jakarta Timur itu sempat menghebohkan jagat media sosial.

Kabag Banops Densus 88 antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan, kelompok Khilafatul Muslimin mempunyai jejak rekam yang dekat dengan kelompok terorisme.

“Kami warning kepada masyarakat adalah khilaf muslimin ini punya track record yang dekat dengan terorisme,” katanya saat di hubungi wartawan.

Hal itu di katakan oleh Aswin melihat dari pimpinan Khilafatul Muslimin yang pernah terlibat dalam beberapa aksi terorisme.

“Seperti keterlibatan pemimpinnya atau pun beberapa orang pengurusnya atau anggotanya. Dan kelompok itu sendiri juga, karena pemimpinnya sendiri terlibat dalam beberapa aksi terorisme. Kelompoknya sendiri juga memiliki keterkaitan dengan beberapa kelompok lain seperti NII, MII,” jelasnya.

“Sudah menjalani hukuman juga, Abdul Hasan Baraja itu. Dia kan pernah dihukum malah masih di zaman orde baru,” sambung Aswin.

Kendati demikian, dirinya belum bisa memastikan apakah bakal melakukan penangkapan terhadap Abdul Baraja atau tidak. Karena, pihaknya juga belum mempunyai bukti keterlibatan mereka dalam aksi teror.

“Begini, kami mengedepankan asas praduga tak bersalah, sampai ada bukti dia bersalah. Saya enggak bisa jawab kemungkinan atau tidak,” katanya.

“Yang jelas kami mengedepankan menjunjung tinggi HAM, sampai memiliki bukti untuk menyatakan bahwa mereka yang tergabung dalam Khilafahtul Muslimin ini baik perorangan, kelompok itu memenuhi alat bukti yang cukup untuk dilakukan hukuman tindak pidana terorisme,” tutupnya.