Tegur Suami Sering Mabuk, Istri Jadi Terdakwa KDRT

Tegur Suami Sering Mabuk, Istri Jadi Terdakwa KDRT

Menit.co.id – Seorang istri di Karawang bernama Valencya (45) kini harus menjadi terdakwa dalam perkara kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Ia di tuntut satu tahun hukuman penjara setelah memarahi suaminya. Padahal Valencya marah karena setiap pulang ke rumah, suaminya dalam keadaan mabuk.

Tiga penyidik yang memeriksa Valencya alias Nengsy Lim (45) yang berujung penetapan tersangka KDRT, kini telah di mutasi dan di nonaktifkan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar Komisaris Besar Polisi Erdi A Chaniago, membenarkan hal tersebut.

“Jadi penyidik yang memeriksa Valencya per hari ini sudah di mutasikan,” kata Erdi di kutip dari Kompas.com, Rabu (17/11/2021).

Erdi mengatakan ketiga penyidik itu telah di periksa Propam Polda Jabar. Pemeriksaan ketiga penyidik itu merupakan evaluasi berdasarkan perintah langsung Kapolda Jabar Irjen Suntana.

Dari hasil pemeriksaan, tiga orang penyidik di nonaktifkan.

Sebelumnya, Jaksa Agung RI Sanitiar Burhanuddin telah memerintahkan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Fadil Zumhana untuk melakukan eksaminasi khusus.

Yaitu terkait dengan penanganan perkara KDRT terdakwa Valencya alias Nengsy Lim di Kejaksaan Negeri Karawang.

Para jaksa yang menangani perkara itu pun akan melalui pemeriksaan fungsional oleh Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan.

Selanjutnya, asisten tindak pidana umum di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat akan di tarik sementara waktu ke Kejaksaan Agung guna memudahkan pemeriksaan fungsional.

Peradi Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menyatakan kasus istri yang memarahi suaminya karena sering mabuk, tapi di tuntut satu tahun penjara seharusnya tidak terjadi.

Di kutip dari Antara, Ketua Peradi Karawang Asep Agustian menyayangkan Kejaksaan Negeri Karawang yang tidak bisa menerapkan restorative justice dalam menangani perkara tersebut.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengecam proses hukum terhadap Valencya. Di mana Ia yang di tuntut satu tahun penjara karena memarahi suaminya yang mabuk.

Komnas Perempuan menilai kondisi tersebut merupakan cermin ketidakmampuan Aparat Penegak Hukum. Khususnya kepolisian dan kejaksaan, dalam memahami relasi kuasa dalam kasus-kasus KDRT.