Dilema Anak Muda Antara Masuk CPNS Atau Ikut Partai Baru

    Sabtu, 9 September 2017 - 17:28 Editor : Redaksi Dibaca : 520 Views

    Menit.co.id – Saat pemerintah membuka seleksi calon penerimaan pegawai negeri sipil (CPNS) di 61 institusi, pada masa yang sama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuka pendaftaran terbuka untuk kaum muda yang ingin masuk politik.

    Janji politik, kaderisasi, dan hasrat ingin mengubah negeri yang dianggap sudah terlalu kusut masai ini tentu menjadi dilema bagi anak muda yang memiliki integritas dan mimpi untuk mengubah.

    PSI menawarkan sejuta mimpi dengan iming-iming perubahan yang sebetulnya belum nampak wujud aslinya. Tes menjadi seorang amtenar atau PNS tentu dianggap menarik dari sudut ekonomi.

    Namun, kesempatan terjun ke politik dan melakukan perubahan sebagai generasi baru pun tak bisa dipandang remeh. “Iya. Susah juga sih. Tapi, ya saya mau daftar juga jadi Caleg dari PSI,” kata Tomy Kharisma Ilahi (25) di Gedung DPW PSI Jakarta, Jumat (8/9).

    Tomy adalah satu dari puluhan anak muda yang mendaftarkan dirinya sebagai kader pascapartai ini resmi membuka pendaftaran untuk caleg dari DKI Jakarta. Tomy mengaku dirinya mendaftar karena ingin mengubah politik yang dia anggap sudah terlalu kusut dan rusak.

    “Ya, ingin gabung karena saya ingin mengubah politik. Saya kesal banyak penyimpangan yang terjadi di pemerintahan, kalau saya mau ubah, ya saya harus terjun ke sana langsung,” kata Tomy.

    Sebelum memutuskan bergabung PSI, Tomy telah bekerja di lingkungan birokrasi yakni pusat informasi Smart City yang bermarkas di balai kota Jakarta. “Memang godaan ikut PNS juga besar, tapi sekarang saya pikir mana yang lebih penting dulu,” kata dia.

    Berbeda dengan Tomy, Arkani Melinda Putri (24) justru memilih bergabung dan ikut daftar CPNS. Dia menyebut, bergabung dengan partai belum tentu bisa mengubah perpolitikan Indonesia yang memang suduh carut marut itu, sebaliknya saat dia ikut bekerja di pemerintahan dia bisa mulai membenahi administrasi pemerintah yang terkadang tidak prorakyat.

    “Kalau ikut partai enggak ada jaminan kita enggak kayak mereka yang sudah lebih dulu terjun politik. Bukan pesimis tapi memang kebanyakan begitu. Kalau sudah punya kekuasaan, suka pada lupa daratan,” kata perempuan lulusan psikologi Universitas Padjadjaran ini kepada CNNIndonesia.com.

    Arkani yakin meski tak berada dalam partai, dirinya bisa turut membuat perubahan. Perubahan kata dia, tidak perlu dilakukan dengan cara langsung terjun ke dunia politik.

    “Ya mungkin orang mikirnya beda-beda, tapi buat saya berbenah diri aja bisa menimbulkan perubahan. Gini aja deh, tidak usah koar-koar mau mengubah… Kalau buang sampah saja masih sembarangan,” kata dia.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: