ANALISIS

    Kontroversi Sandiaga Uno dan Jalan Pintas Merebut Simpati Massa

    Senin, 17 Desember 2018 - 15:32 Editor : Redaksi Dibaca : 841 Views

    Menit.co.id Penolakan seorang warga terhadap calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, saat berkampanye di Pasar Kota Pinang, Labuan Batu, Sumatera Utara, memicu kontroversi.

    Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin menuding penolakan itu semata skenario alias sandiwara Sandi untuk menarik simpati warga.

    Juru bicara TKN, TB Ace Hasan Syadzily meyakini penolakan itu sebatas sandiwara setelah dia melihat dengan seksama rekaman video penolakan itu.

    Pengamat komunikasi politik Agus Sudibyo berpendapat tudingan TKN terhadap Sandiaga sesuatu yang serius. Oleh karena itu sudah seharusnya TKN menyertai tudingan tersebut dengan bukti yang mendukung.

    “Itu tidak cukup hanya melihat sesaat saja karena itu tuduhan serius. Jadi tidak bisa dilihat secara sederhana tapi juga harus diselidiki,” tutur Agus kepada CNNIndonesia.com.

    Ace sendiri dalam tudingannya tidak menyertakan bukti soal rekayasa penolakan terhadap Sandi. Ace malah kembali menuding bahwa lewat skenario itu Sandi berusaha memposisikan diri sebagai korban agar mendapat simpati. Playing victim, bahasa populernya.

    Terlepas dari kebenaran soal penolakan terhadap Sandiaga, menurut Agus, kampanye dengan cara playing victim cenderung manipulatif. Namun Agus berpendapat strategi playing victim hal yang wajar.

    Gaya kampanye playing victim menjadi tidak wajar jika dilakukan dengan cara direkayasa. Karena itu, Agus menekankan pentingnya bukti kuat dari TKN terkait tudingan rekayasa kampanye Sandi di Pasar Kota Pinang.

    Kampanye Sandi yang memicu kontroversi sebenarnya bukan terjadi kali ini. Sebelumnya, sejumlah kampanye Sandi terutama di pasar-pasar tradisional pun turut memicu kontroversi.

    Sandi memicu kontroversi ketika menyinggung keberadaan tempe setipis kartu ATM hingga tempe setebal telepon seluler lawas. Sandi juga pernah disorot karena dituding berpolitik di kampus, termasuk ketika berziarah ke makam salah satu tokoh Nahdlatul Ulama.

    Idil Akbar, pengamat politik dari Universitas Padjajaran (UNPAD), menilai rentetan kontroversi dalam kampanye Sandi tidak menawarkan sebuah model kampanye yang substantif.

    Dengan kata lain, menurut Idil, kampanye Sandi tidak mendatangkan manfaat apapun kepada masyarakat. Idil bahkan menganggap gaya kampanye itu cenderung provokatif.

    “Seringkali di daerah, gaya yang dilakukan hanya membahas yang tidak tidak substantif seperti tempe setipis ATM. Itu menurut saya provokatif karena memunculkan diskursus yang menyulitkan masyarakat ini benar atau tidak,” ujar Idil.

    Sementara Agus Sudibyo menilai yang dilakukan Sandi masih dalam koridor kelaziman. Kampanye, menurut Agus, memang memprioritaskan bentuk kemasan ketimbang isi. “Kalau kita melihat bagaimana kampanye, ya, memang begitu. Mementingkan packaging,” ujar Agus.

    Meski minim substansi, semua kontroversi Sandiaga mendapat sorotan luas dari media. Perdebatan panas ikut terjadi di jagat media sosial. Dalam kasus penolakan di Pasar Kota Pinang, misalnya, tagar #SandiwaraUno sempat populer untuk menyindir Sandi.

    Idil pun tak menampik efek publikasi dari kampanye Sandi. Dia menilai meski kosong pesan, gaya kampanye Sandi telah berhasil merebut perhatian khalayak. Kendati demikian, gaya kampanye nirsubstansi dan provokatif menurut Idil punya akibat negatif.

    “Dalam konteks ini Pak Sandi harus melihat diri sendiri, artinya apakah kampanye ini sudah betul atau tidak, atau mungkin kontraproduktif dengan nilai-nilai di daerah terkait,” kata dia.

    Hal lain yang harus diperhatikan adalah efek elektoralnya. Bagi Idil, keberhasilan menarik perhatian khalayak tak serta merta menaikkan elektabilitas sang calon. Ini berlaku buat kubu Sandi maupun Jokowi.

    Dalam kasus Sandi, Idil mengibaratkan kemasan kampanye yang ditawarkan seperti datang dengan tangan kosong. Artinya, mantan Wakil Gubernur DKI itu belum menawarkan program konkret kepada masyarakat.

    Terpisah, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak menolak pihaknya disebut hanya mencari-cari kontroversi selama kampanye.

    Dahnil mengklaim yang dilakukan Prabowo-Sandi selama kampanye justru mengajak berdialog. Dalam dialog itu, kata Dahnil, pihaknya turut menyampaikan komitmen dan visi yang diusung.

    Dialog dilakukan tak hanya kepada para pendukung. Melainkan juga pihak yang tidak mendukung. Kata Dahnil, kasus penolakan di Pasar Kota Pinang jadi salah satu contohnya. “Jadi dialog adalah kunci,” kata Dahnil menepis isu rekayasa di Labuan Batu.

    (cnn/cnn)



    Komentar Pembaca: