Susilo Bambang Yudhoyono Murka pada Moeldoko

  • Bagikan
Susilo Bambang Yudhoyono dan Moeldoko

Menit.co.id – Wajahnya serius, sesekali menghela napas, mimiknya tampak murka. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak beberapa kali mengigit bibirnya, memperbaiki kacamata yang dikenakan.

SBY menggelar jumpa pers di kediamannya Cikeas, Bogor, Jumat (5/3), malam. Dia menyikapi peristiwa Kongres Luar Biasa (KLB) yang dibuat para mantan kader Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara. Dalam KLB itu, KSP Moeldoko didaulat sebagai ketua umum.

Berkemeja biru tua, lengkap dengan pin logo Partai Demokrat di dada kiri, SBY menyatakan partainya sedang berduka.

“Hari ini kami berkabung, Partai Demokrat berkabung. Sebenarnya bangsa Indonesia juga berkabung. Berkabung karena akal sehat telah mati,” kata SBY. Tepat di belakang SBY, terdapat foto mendiang Ibu Ani Yudhoyono di sisi kanan, sementara di sisi kiri mendiang Siti Habibah, sang ibunda tercinta.

Membawa beberapa lembar kertas sebagai panduan konferensi pers, SBY mengungkapkan kekesalannya. Tidak lain kepada KSP Moeldoko, sang jenderal purnawirawan yang pernah ditunjuknya menjadi Panglima TNI.

SBY bahkan mengungkit jasanya dalam menunjuk Moeldoko sebagai panglima TNI saat dirinya menjadi presiden RI. SBY juga heran, dengan darah dingin, Moeldoko dengan tega melakukan perebutan kekuasaan di Partai Demokrat dengan cara ilegal.

SBY juga menyingung langkah Moeldoko memalukan prajurit TNI yang seharusnya berjiwa kesatria. Dia pun malu dan menyesal telah memberikan kesempatan Moeldoko menjadi Panglima TNI.

“Termasuk rasa malu dan rasa bersalah saya yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya dan mohon ampun kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan yang Maha Kuasa, atas kesalahan saya itu,” kata SBY.

Pidato Politik Pertama Moeldoko

Dalam KLB itu, Marzuki didaulat sebagai Ketua Dewan Pembina partai. Sementara Sekjen di bawah kepemimpinan Jhoni Allen.

Usai dikukuhkan menjadi ketua umum, Moeldoko pun memberikan pidato politik pertamanya sebagai Ketum versi KLB Deli Serdang. Dia mengklaim tidak memiliki kekuatan untuk memaksa para kader Partai Demokrat untuk memilih dirinya jadi ketua umum.

“Saya sama sekali tidak punya kekuatan untuk memaksa saudara-saudara untuk memilih saya, tapi semua lahir dari sebuah keyakinan,” kata Moeldoko.

Dia pun bersyukur telah dipilih. Dia pun berharap Partai Demokrat bisa menggemparkan Indonesia. Yaitu dengan memiliki Marzuki Alie yang berlatar belakang politik, serta para DPP, DPC dan organisasi sayap.

“Pak Marzuki Alie punya pengalaman di partai politik yang luar biasa, saya punya pengalaman di Militer dan pemerintahan, para pendiri parpol Demokrat, para senior memiliki filosofi dan kebijakan yang sangat tinggi, para DPP, DPC, dan organisasi sayap memiliki semangat yang menggelegar, luar biasa, jadi kalau semua kekuatan ini disatukan maka akan menggemparkan Indonesia,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketum Demokrat AHY menegaskan telah menyiapkan tim hukum untuk melaporkan para pelaku KLB Deli Serdang ke penegak hukum. AHY berjanji akan melawan segala bentuk upaya kudeta yang dilakukan dengan cara ilegal.

AHY Melawan

AHY juga menegaskan, bahwa para peserta KLB Deli Serdang itu bukan pengurus daerah. Hanya 7 persen yang tercatat pernah menjadi pengurus. Sementara daerahnya kini telah ditunjuk Plt, sebelum KLB tersebut digelar.

AHY menegaskan, didaulatnya Moeldoko menjadi ketua umum Demokrat merupakan bentuk pelecehan. Hal itu dilakukan hanya demi ambisi pribadi.

“Tentu melecehkan administrasi, aturan dan segala prinsip yang diyakini dan digunakan oleh Demokrat selama ini, demi ambisi pribadi, demi kepuasan politik semata. Demi agenda yang kita tidak tahu sampai sejauh mana itu akan dilakukan,” tegas AHY.

AHY pun menyebut KLB yang memilih Moeldoko sebagai dagelan semata. Dia tak habis pikir kenapa bisa KLB ini bisa digelar dengan melanggar aturan yang ada.

“KLB ini bisa dikatakan dagelan. Saya tidak bisa teirma dengan akal sehat, tapi sudah terjadi dan kami yakinkan itu semaunya. Akan kami hadapi dan kami lawan. Karena kami punya hak dan kewajiban menjaga kedaulatan Partai Demokrat. Jangan cederai akal sehat, jangan injak etika moral dalam politik yang berkeberadaban,” tambah dia.

Sementara itu, Jhoni Allen Marbun memastikan bahwa pemilihan Moeldoko sebagai Ketum Partai Demokrat telah sesuai dengan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART).

“AD/ART, unsur pimpinan pusat, pimpinan daerah, pimpinan cabang, pendiri partai dan sayap partai. Unsur ini dilakukan sesuai dengan tingkatan dan bisa diwakili. Memenuhi kuorum, sudah kembalikan AD/ART 2005,” kata Jhoni dalam jumpa pers usai KLB Partai Demokrat, Jumat (5/3).

Lanjut Jhoni, tidak ada yang menyalahi dan melanggar aturan dalam proses pemilihan Ketum Partai Demokrat di KLB tersebut. Tahapan yang dilakukan juga sesuai dengan AD/ART Partai Demokrat.

“Oleh karena itu bahwa semua dilakukan dengan proses-proses. Adanya surat keputusan dari kongres luar biasa yang kita minta seluruh peserta, apa itu? Sebagai Partai Demokrat,” ujarnya.

Usai KLB Partai Demokrat ini, Jhoni mengklaim akan memberikan kesempatan bagi para pihak yang ingin bergabung bersama partai berlambang bintang mercy ini.

“Terbuka dan modern, siapa pun masuk dan apabila bersangkutan tidak memiliki kartu tanda anggota dalam proses luar biasa. Kita sepakati beliau (Moeldoko) telah memiliki kartu tanda anggota nomor khusus atau spesial,” sebut Jhoni.

  • Bagikan